TUGAS MANDIRI 4-PENGANTAR TEKNIK INDUSTRI-KAMPUS ITBI MILENIAL MEDAN

Nama : Falensius Mendrofa

Kelas : Pagi

Jurusan : Teknik Industri


                       TUGAS MANDIRI 4


SOAL:

1. CARILAH JURNAL YANG BERKAITAN TENTANG RANTAI PASOK DAN RINGKASLAH !.

                       JAWABAN👇


Manajemen Rantai Pasok Benih Cabai Rawit

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang 

Dalam rangka pembangunan ekonomi nasional, sektor pertanian mendapat 

prioritas utama. Hal ini dikarenakan jika ditinjau dari berbagai segi, sektor pertanian 

merupakan sektor yang dominan dalam ekonomi nasional. Pembangunan pertanian 

bertujuan meningkatkan produksi pertanian tanaman pangan untuk mencapai 

swasembada pangan, meningkatkan produksi tanaman industri dan tanaman ekspor, 

mewujudkan agroindustri dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, serta berusaha 

meningkatkan pendapatan petani.

Dalam rangka meningkatkan pendapatan petani, tidak dapat dihindari dari 

penggunaan benih unggul yang merupakan mata rantai pertama dalam proses 

budidaya tanaman. Peningkatan produksi pertanian pun banyak ditunjang oleh peran 

benih bermutu. Meski program perbenihan nasional telah berjalan sekitar 30 tahun, 

tetapi ketersediaan benih bersertifikat belum mencukupi kebutuhan 

potensialnya.Benih menjadi salah satu faktor utama yang menjadi penentu 

keberhasilan dalam budidaya tanaman. Menurut FAO, peningkatan campuran 

varietas lain dan kemerosotan produksi sekitar 2,6 % tiap generasi pertanaman 

merupakan akibat dari penggunaan benih yang kurang terkontrol mutunya. 

Penggunaan benih bermutu dapat mengurangi resiko kegagalan budidaya 

karena bebas dari serangan hama dan penyakit, tanaman akan dapat tumbuh baik 

pada kondisi lahan yang kurang menguntungkan dan berbagai faktor tumbuh lainnya. 

(Wirawan, 2002). Pentingnya penggunaan benih bermutu merupakan salah satu 

unsur panca usaha pertanian yang utama dalam upaya peningkatan produksi karena 

tanpa penggunaan benih unggul yang bermutu, maka penerapan sarana produksi 

lainnya akan kurang bermanfaat bahkan menimbulkan kerugian petani 

(Deptan,1999).

Sebagai Negara agraris, kebutuhan produk hortikultura cukup tinggi. Potensi 

ekonomi beberapa tanaman hortikultura sangat besar. Hortikultura adalah komoditas 

yang memiliki masa depan sangat cerah dari keunggulan komparatif dan kompetitif 

yang dimilikinya dalam pemulihan perekonomian Indonesia waktu mendatang 

(Sunu, 2006). Salah satu komoditi hortikultura yang perlu mendapat perhatian adalah 

komoditi cabai rawit. Di Kabupaten Gianyar terdapat sebuah yayasan yang 

membudidayakan benih cabai rawit. Permintaan terhadap benih cabai tersebut cukup 

tinggi. Sehubungan dengan permintaan benih cabai yang cukup tinggi maka perlu 

dilakukan manajemen rantai pasok yang baik dalam Yayasan Idep ini agar mampu 

mencukupi kebutuhan pelanggan seefisien mungkin.

1.2 Tujuan penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka tujuan penelitian ini adalah 

untuk mengetahui manajemen rantai pasok benih cabai rawit mulai dari produsen 

sampai ke konsumen yang diterapkan oleh Yayasan Idep. Untuk mengetahui efisiensi 

manajemen rantai pasok benih cabai rawit pada Yayasan Idep.

2. Metode Penelitian

2.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Yasayan Idep yang terletak di Desa Batuan Kaler 

Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar pada bulan Desember 2014 sampai bulan 

Mei 2015. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive 

sampling).

2.2 Penetuan Sampel Penelitian 

Penentuan responden petani dalam penelitian ini dengan menggunakan 

metode sensus yaitu semua anggota populasi petani digunakan sebagai responden. 

Responden petani dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari populasi tersebut 

yaitu 20 orang petani. Pengambilan populasi pedagang yang tidak diketahui 

menggunakan metode snowballing. Lembaga pemasaran yang terlibat dalam dalam 

penelitian ini ada dua lembaga pemasaran yaitu pedagang pengumpul sebanyak 2

orang, dan pedagang pengecer sebanyak 5 orang. Dalam penelitian ini juga 

melibatkan informan kunci yaitu pihak-pihak yang bersangkutan pada Yayasan Idep.

2.3 Metode Pengumpulan Data, Variabel Penelitian dan Metode Analisis

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 

dengan melakukan observasi langsung ke tempat penelitian yaitu Yayasan Idep dan 

lokasi pembudidayaan benih cabai rawit di Kabupaten Bangli melalui wawancara 

langsung dengan responden dan informan kunci serta dokumentasi. Adapun variable-

variabel dalam penelitian ini adalah analisis rantai pasok yaitu pola rantai pasok serta 

rantai nilai, dan efisiensi pemasaran baik secara teknis maupun ekonomis. Variabel-

variabel tersebut akan dianalisis dengan metode analisis kuantitatif berupa marjin 

pemasaran dan efisiensi pemasaran, dan analisis kualitatif berupa pola rantai pasok 

dan rantai nilai.

3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Karakteristik Responden Petani

Karakteristik responden penelitian disini dibagi menjadi karakteristik petani 

responden dan pedagang responden. Karakteristik petani responden dapat diuraikan 

menjadi lima yaitu identifikasi umur petani responden, pendidikan responden, status 

penguasaan lahan, pengalaman membudidayakan benih cabai rawit serta luas tanam 

cabai rawit. 

1. Identifikasi umur petani responden

Dari 20 orang petani responden yang bekerjasama dengan Yayasan Idep 

dalam membudidayakan benih cabai rawit diperoleh data ra-rata tumur petani dengan 

adalah 61 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum responden petani yang 

membudidayakan benih cabai rawit berada dalam golongan usia produktif.

2. Pendidikan responden

Petani responden yang bekerjasama dengan Yayasan Idep dalam 

membudidayakan benih cabai rawit memiliki tingkat pendidikan dari SD, SLTP dan 

SLTA. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar petani responden menempuh 

pendidikan sampai jenjang SLTA yaitu sejumlah 60% dari 20 orang petani 

responden.

3. Status penguasaan lahan

Lahan merupakan faktor produksi yang mempunyai kedudukan paling 

penting. Hal ini terbukti dari besarnya balas jasa yang diterima oleh lahan 

dibandingkan faktor-faktor produksi lainnya (Mubyarto, 1995). Hasil penelitian 

menunjukkan bahwa 20 orang petani responden berstatus sebagai pemilik lahan 

100%.

4. Pengalaman responden membudidayakan benih cabai rawit

Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani responden membudidayakan 

benih cabai rawit ini belum terlalu lama. Hal ini dapat dilihat bahwa sebanyak 20 

orang petani responden atau keseluruhan dari petani responden telah berpengalaman 

membudidayakan benih cabai rawit ini selama 2 tahun. Hal ini dikarenakan Yayasan 

Idep selaku pihak yang diajak bekerjasama oleh petani responden memulai usaha 

pembudidayaan benih cabai rawit ini sejak 2 tahun lalu.

5. Luas tanam cabai rawit

Dari 20 orang petani responden atau keseluruhan petani responden memiliki 

luas tanam cabai rawit dibawah 1 are yaitu 0,5 are.

3.2 Karakteristik Responden Pedagang

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh jumlah pedagang sebanyak tujuh 

orang, yang terdiri atas dua orang pedagang pengumpul, dan lima orang 

pedagang pengecer. Dalam penelitian ini Yayasan Idep selaku pihak yang diajak 

bekerjasama oleh petani merupakan pedagang besar. Karakteristik responden 

pedagang yang akan diuraikan adalah kelompok umur, jenis kelamin, 

pendidikan dan lamanya berdagang benih cabai rawit.

1. Identifikasi responden pedagang berdasarkan kelompok umur

Keseluruhan usia responden pedagang pengumpul, dan pedagang pengecer 

dalam penelitian ini berkisar 15 sampai dengan 64 tahun. Hal ini menunjukkan 

bahwa keselurahan pedagang responden berada dalam golongan usia produktif.

2. Identifikasi responden pedagang berdasarkan jenis kelamin

Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 57% pedagang responden merupakan 

perempuan. Seluruh pedagang pengumpul dalam penelitian ini adalah perempuan , 

begitu pula dengan pedagang pengecer. Sebanyak 3 orang atau 60% dari pedagang 

pengecer adalah perempuan.

3. Identifikasi responden pedagang berdasarkan pendidikan

Pendidikan formal responden untuk keseluruhan pedagang pengumpul 

yaitu tamat SLTA. Sedangkan untuk pedagang pengecer sebagian besar yaitu sekitar 

80% nya memiliki pendidikan formal tamat perguruan tinggi (S1).

4. Identifikasi responden pedagang berdasarkan lamanya berdagang

Pengalaman dalam menjual benih cabai rawit ini juga merupakan salah satu 

faktor penting yang berpengaruh terhadap kemampuan pedagang dalam 

mengembangkan pemasaran benih cabai rawit. Dalam penelitian ini, karena Yayasan 

Idep baru mengembangkan usaha budidaya benih ini kurang lebih selama 2 tahun 

jadi tentu saja pengalaman pedagang respon dalam berjualan benih tergolong masih 

baru berkisar dari 1 sampai 1,5 tahun.

3.3 Kemitraan Petani Pembudidaya Benih cabai Rawit dengan Yayasan Idep

Menjalin kemitraan yang erat menjadi salah satu pilar kegiatan dalam 

menunjang kinerja operasional perusahaan. Menurut Notoatmodjo (2003), kemitraan 

adalah suatu kerja sama formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau 

organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu. Dalam 

penelitian ini, Yayasan idep bekerjasama dengan 20 orang petani untuk 

membudidayakan benih hortikultura. Melalui kesepakatan-kesepakatan yang telah 

disetujui antara kedua belah pihak maka kerjasama ini dapat berlangsung. 

Keseluruhan petani yang bekerjasama dengan Yayasan Idep ini akan menjual benih 

yang mereka budidayakan kepada Yayasan Idep dengan harga yang telah disepakati 

sebelumnya. Untuk benih cabai rawit Petani menjual benih seharga Rp 1,500,- /gram 

kepada Yayasan Idep. Bahan baku dan sarana produksi dalam pembudidayaan benih 

pun diperoleh dari Idep. Jadi penentuan komoditi apa yang akan di tanam oleh petani 

ditentukan oleh Yayasan Idep.

3.4 Pelaku Rantai Pasok pada Tingkat Pedagang

Pada komoditas benih cabai rawit, pelaku rantai pasok di tingkat pedagang 

terbagi ke dalam beberapa level yang terdiri atas pedagang pengumpul sebanyak 2 

orang dengan rata-rata penjualan yang dilakukan pedagang pengumpul ini adalah 

2.000 gram/minggu , dengan harga jual Rp 7.800,00/gram dan 5 orang pedagang 

pengecer dengan rata-rata volume penjualan 1.800 gram/minggu.

3.5 Manajemen Rantai Pasok Benih Cabai Rawit

Menurut Indrajit (2003), rantai pasok merupakan suatu sistem tempat 

organisasi menyalurkan barang produksi dan jasanya kepada para pelanggannya. 

Rantai ini juga merupakan jaringan atau jejaring dari berbagai organisasi yang saling 

berhubungan dan mempunyai tujuan yang sama, yaitu sebaik mungkin 

menyelenggarakan pengadaan dan penyaluran barang tersebut.

Simichi-Levi dan David (2000) menyatakan manajemen rantai pasok sebagai 

sebuah pendekatan yang diterapkan untuk menyatukan pemasok, pengusaha, gudang, 

dan tempat penyimpanan lainnya (distributor, retailer, dan pengecer) secara efisien, 

sehingga produk dapat dihasilkan dan didistribusikan dengan jumlah yang tepat, 

lokasi yang tepat, dan waktu yang tepat untuk menurunkan biaya dan memenuhi 

kebutuhan pelanggan.

Manajemen Rantai Pasokan atau disebut Supply Chain Management 

merupakan pengelolaan rantai siklus yang lengkap mulai bahan mentah dari para 

supplier, ke kegiatan operasional di perusahaan, berlanjut ke distribusi sampai 

kepada konsumen. Pedagang besar (Yayasan Idep) berperan mengumpulkan benih 

cabai rawit dari petani. Pedagang besar melakukan sortasi dan pengemasan terlebih 

dahulu sebelum dijual ke pedagang pengumpul dan pengecer. Pedagang pengumpul 

berperan mengumpulkan benih cabai rawit dari pedagang besar kemudian dijual 

kepada pedagang pengecer. Pedagang pengecer berperan mengumpulkan benih 

cabai rawit yang dibeli dari pedagang pengumpul, dan pedagang besar setelah 

itu menjual ke konsumen.

3.5.1 Pola Rantai pasok Benih Cabai Rawit pada Yayasan Idep

Menurut Pujawan (2005), pada suatu rantai pasok terdapat tiga macam 

aliran yang harus dikelola. Pertama, aliran barang yang mengalir dari hulu 

(upstream) ke hilir (downstream). Kedua, aliran uang (fnansial) yang mengalir dari 

hilir ke hulu. Ketiga, aliran informasi yang terjadi dari hulu ke hilir atau sebaliknya.

Dalam penelitian ini terdapat enam rantai pasok yang dimanfaatkan oleh Yayasan 

Idep dalam menyalurkan benihnya dengan melibatkan tiga macam aliran yaitu aliran 

produk atau barang, aliran financial dan aliran informasi. Aliran produk dalam rantai 

pasok benih cabai rawit pada Yayasan Idep yaitu :

1. Produsen Yayasan idep Pedagang pengepul Pedagang pengecer 

Konsumen

2. Produsen Yayasan idep Pedagang pengepul Pedagang pengecer 

Konsumen

3. Produsen Yayasan idep Pedagang pengecer Konsumen

4. Produsen Yayasan idep Pedagang pengecer Konsumen

5. Produsen Yayasan idep Pedagang pengecer Konsumen

6. Produsen Yayasan idep Konsumen

Aliran finansial merupakan perpindahan uang yang mengalir dari hilir ke 

hulu. Aliran keuangan mengalir dari konsumen hingga ke petani produsen. 

Berdasarkan Gambar 5.1, tentang pola aliran dalam rantai pasokan benih cabai rawit

menunjukkan bahwa keuangan mengalir dari konsumen sampai kepada petani 

produsen. Sistem pembayaran dilakukan secara tunai dan akan terjadi transaksi 

apabila ada kesepakatan dan kesesuaian produk dengan harga yang ditawarkan.

Aliran informasi merupakan aliran yang terjadi baik dari hulu ke hilir 

maupun sebaliknya dari hilir ke hulu. Informasi yang mengalir berkaitan dengan stok 

benih, jumlah permintaan, harga benih, maupun informasi terkait peraturan 

penyimpanan benih.

3.5.2 Marjin Pemasaran

Adapun data mengenai marjin pemasaran pada masing-masing rantai pasok 

dapat dilihat pada Tabel 1. Dibawah ini.

Tabel 1. Marjin Pemasaran Masing-masing Saluran Pada Komoditas Benih Cabai 

Rawit di Yayasan Idep Tahun 2015.

No Lembaga pemasaran

Marjin pemasaran (Rp/gram)

Saluran 

I

Saluran 

II

Saluran

III

Saluran 

IV

Saluran 

V

Saluran 

VI

1

Pedagang besar 

( Idep) 5200 5200 5200 5200 5200 5200

2 Pedagang pengumpul 1100 1100 0 0 0 0

3 Pedagang pengecer 600 600 1700 1700 1700 0

Jumlah 6900 6900 6900 6900 6900 5200

Sumber : diolah dari data primer

Tabel 1, menginformasikan bahwa nilai marjin terendah terdapat pada saluran 

enam yaitu sebesar Rp 5.200,00/gram. Hal ini disebabkan karena saluran pemasaran 

enam paling pendek dibandingkan dengan lima saluran pemasaran lainnya. 

Sedangkan lima saluran pemasaran lainnya memiliki nilai marjin yang sama yaitu 

sebesar Rp 6.900,00/gram.

3.5.3 Pola Rantai Nilai

Setiap rantai pasok terdapat proses penambahan nilai. Oleh karena itu harga 

jual pada setiap rantai akan lebih besar daripada harga pembelian, sebagai akibat dari 

penambahan biaya. Rantai nilai disini menunjukkan nilai jual benih cabai rawit pada 

setiap pelaku usaha, sehingga dapat diketahui nilai yang dapat ditambahkan pada 

setiap tahapan. Dalam setiap rantai nilai pada masing-masing saluran, penambahan 

nilai tertinggi terdapat pada pedagang besar (Yayasan Idep) yaitu sebesar Rp 

5.200,00.

3.6 Efisiensi pada Rantai Pasok Benih Cabai Rawit

Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara input (masukan) dan output 

(hasil antara keuntungan dengan sumber-sumber yang dipergunakan), seperti halnya 

juga hasil optimal yang dicapai dengan penggunaan sumber yang terbatas. Dengan 

kata lain hubungan antara apa yang telah diselesaikan (Hasibuan, 1984).

Tabel 2. Perbandingan Efisiensi Teknis dan Ekonomis pada Setiap Rantai Pasok

No Uraian Rantai Pasok

 I II III IV V VI

1 Volume Penjualan (gr) 3000 1000 3000 1000 1000 440

2 Harga Jual Petani (Rp/gr) 1500 1500 1500 1500 1500 1500

3 Harga Jual Konsumen (Rp/gr) 8400 8400 8400 8400 8400 6700

4 Total Keuntungan (Rp) 3491.14 3491.14 3481.13 3372.8 3397.8 1997.8

5 Total Biaya (Rp) 3408.86 3408.86 3418.87 3527.2 3502.2 3202.2.

6 Jarak (km) 8 6 6 5 6.5 0

7 Indeks Efisiensi Teknis (Rp/gr/km) 9.09 20.45 6.84 17.64 22.76 0.00

8 Indeks Efisiensi Ekonomis Rp (π/C) 1.024 1.024 1.018 0.96 0.97 0.62

Nilai indeks efisiensi teknis yang paling rendah terdapat pada rantai 

pasok enam yaitu sebesar 0 gr /km. Hal ini menyatakan bahwa rantai pasok tiga 

sudah dikatakan efisien secara teknis karena nilainya paling rendah. Nilai 

indeks efisiensi ekonomis yang paling tinggi terdapat pada rantai pasok satu

dan dua yaitu sebesar Rp 1,024. Hal ini menyatakan bahwa rantai pasok satu dan 

dua sudah dikatakan efisiensi secara ekonomis dimana satu unit biaya lebih besar

maka dikatakan efisien secara ekonomis.

4. Penutup

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisis manajemen rantai pasok pada Yayasan Idep maka dapat 

disimpulkan 

1. Terdapat enam rantai pasok yang dimanfaatkan oleh Yayasan Idep dalam 

menyalurkan benih cabai rawit yaitu :

a) Produsen Yayasan idep Pedagang pengepul Pedagang pengecer 

Konsumen

b) Produsen Yayasan idep Pedagang pengepul Pedagang pengecer 

Konsumen

c) Produsen Yayasan idep Pedagang pengecer Konsumen

d) Produsen Yayasan idep Pedagang pengecer Konsumen

e) Produsen Yayasan idep Pedagang pengecer Konsumen

f) Produsen Yayasan idep Konsumen

2. Rantai pasok yang paling efisien secara teknis yang memiliki nilai terendah 

terdapat pada rantai pasok yang melibatkan Yayasan Idep saja sebagai pedagang 

besar yaitu sebesar 0 gr /km. Sedangkan efisiensi secara ekonomis terdapat pada 

rantai pasok yang melibatkan Yayasan idep selaku pedagang besar, pedagang 

pengumpul dan pedagang pengecer yaitu sebesar Rp 1,02.

4.2 Saran 

1. Yayasan Idep sebaiknya lebih meningkatkan lagi produksi benih cabai rawitnya 

sehingga penjualan benih cabai rawitnya secara langsung dapat lebih ditingkatkan, 

karena rantai pasok enam merupakan rantai pasok yang paling efisien dan efektif 

bagi Yayasan Idep. Apabila Yayasan Idep mampu meningkatkan penjualannya 

secara langsung, maka hal ini dapat meminimalkan biaya transportasi.



                          🙏  THANK🙏















Komentar